Minggu, 26 Januari 2014

KTI tentang informed consent


GAMBARAN KUALITAS INFORMASI PERAWAT DALAM PEMBERIAN INFORMED CONSENT PADA PEMASANGAN INFUS DI UGD RUMAH SAKIT TENTARA
PEKANBARU 2013


Description: Logo stikes.jpg








Diajukan Untuk Mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah

Oleh :
M. ARIF SAPUTRA    
120101074



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AL-INSYIRAH  PEKANBARU
TAHUN 2013

INTISARI

            Pemberian pelayanan yang berkualitas di Rumah Sakit dapat dilakukan dengan berbagai aspek kegiatan diantaranya adalah adanya persetujuan tindakan medis (Informed Consent). Informed consent adalah persetujuan klien terhadap pengobatan atau prosedur yang akan dilakukan kepadanya setelah informasi lengkap diberikan dan penjelasan dilakukan oleh dokter ataupun perawat. Perawat merupakan salah satu tenaga medis yang berperan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien di rumah sakit. Informasi yang berkualitas dari perawat sangat ditentukan oleh kecermatan (accuracy), tepat waktu (timeliness) dan relevansinya (relevancy).
Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah metode deskriptif. Jumlah sampel dalam penelitian ini pasien yang mendapatkan tindakan pemasangan infus di IGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru dari umur 6 tahun sampai > 60 tahun adalah sebanyak 30 pasien. Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari pasien yang dirawat di IGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru dengan kriteria sampel yang telah ditetapkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran kualitas informasi perawat dalam pemberian informed consent sebanyak 30 orang dalam menyampaikan diagnosa 96,7% dan penurunan dalam menyampaikan alternatif tindakan dalam pemasangan infus adalah 40%. Jadi dapat kesimpulannya bahwa dalam memberikan informed consent pada pemasangan infus mengalami peningkatan dalam memberikan kualitas informasi.

Kata Kunci : informed consent, kualitas informasi, perawat, pemasangan infus

  
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
            Pemberian pelayanan yang berkualitas di Rumah Sakit dapat dilakukan dengan berbagai aspek kegiatan diantaranya adalah adanya persetujuan tindakan medis atau Informed Consent. Informed Consent adalah persetujuan yang diberikan oleh klien atau keluarganya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap klien tersebut (Chandranila ,1992).
Perawat merupakan salah satu tenaga medis yang berperan penting dalam memberikan  pelayanan kesehatan terhadap pasien di rumah sakit khususnya di Unit Gawat Darurat (UGD). Sebagai ujung tombak dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit, sehingga perawat di UGD wajib mempunyai kualitas kecekatan, keterampilan, dan kesiagaan setiap saat (Syaer, 2011). Sekitar  60% pasien yang dilakukan rawat inap yang masuk lewat UGD mendapatkan terapi cairan melalui infus. Dari tindakan  penatalaksanaan infus ini, pasien akan terpapar pada resiko terkena infeksi nosokomial dan phlebitis. Rumah Sakit Tentara Pekanbaru merupakan salah satu rumah sakit rujukan yang mempunyai dan mempunyai fasilitas tingkat dasar dan disana penulis melakukan penelitian mengenai “Gambaran Kualitas Informasi Perawat Dalam Informed Consent Terhadap Pemberian Infus di UGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru Tahun 2013”.

B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat diambil suatu rumusan masalah adalah bagaimana kualitas informasi perawat dalam pemberian informed consent  pada pemasangan infus di UGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru.




C. Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Mengetahui kualitas informasi perawat dalam pemberian informed consent pada pemasangan infus di Rumah Sakit Tentara Pekanbaru.
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui kualitas informasi perawat tentang pemberian informed consent di UGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru.
b.    Untuk mengetahui kualitas informasi perawat tentang tindakan pemasangan infus di UGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru.
c.    Untuk  mengetahui pengetahuan perawat mengenai informed consent dalam pemasangan infus di UGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru.
D. Manfaat Penelitian
1.    Bagi Perawat
Sebagai masukan bagi perawat tentang Informed consent kepada klien dan sebagai bahan informasi guna mengambil sikap pemberian informasi dan persetujuan dari klien sebelum bertindak.
2.    Bagi Institusi Rumah Sakit
Dapat dijadikan masukan bagi pihak rumah sakit tentang pelaksanaan Informed consent perawat dan sebagai bahan kajian untuk menyusun rencana peningkatan pelayanan perawat khususnya tentang pelaksanaan Informed consent.
3.    Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan referensi dan tambahan pengetahuan tentang pelaksanaan informed consent perawat bagi pendidikan tertentu.
4.    Bagi peneliti
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.




BAB II
                                                                 TINJAUAN PUSTAKA
A.       Informed Consent
1.    Pengertian Informed Consent
                        Informed consent adalah persetujuan klien terhadap pengobatan atau prosedur yang akan dilakukan kepadanya setelah informasi lengkap diberikan, termasuk resiko atau dampak yang akan terjadi sebagai akibat dari tindakan tersebut, penjelasan dilakukan oleh dokter (Sumijatun,2010).
2.    Fungsi Informed Consent
                 Fungsi informed consent adalah sebagai berikut: promosi otonomi individu, proteksi terhadap klien dan subjek, menghindari kecurangan dan penipuan paksaan, mendorong adanya penelitian cermat dari diri sendiri oleh perawat, promosi keputusan yang rasional.                                    
3.    Hukum yang Mengenai Informed Consent
                        Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang persetujuan Tindakan Medik atau informed consent yang dijadikan pedoman bagi para profesi medis untuk menjalankan tugasnya dan menerapkan informed consent. Dalam persetujuan medis terkandung kemungkinan bagi pasien untuk menerima atau menolak apa yang ditawarkan dengan disertai penjelasan serta pemberian informasi seperlunya oleh tenaga medis (Sumijatun, 2010).
4.    Hal – Hal yang Mempengaruhi Proses Informed Consent
                 Bagi pasien bahasa yang digunakan perawat untuk menjelaskan tindakan medis terlalu teknis dan perilaku dokter atau perawat yang terlihat terburu-buru atau tidak perhatian atau tidak ada waktu untuk tanya – jawab dan bagi petugas kesehatan yaitu pasien tidak mau diberitahu, pasien tak mampu memahami dan situasi gawat darurat atau waktu yang sempit.
5.    Kualitas Informasi
                        Sebuah informasi yang berkualitas sangat ditentukan oleh kecermatan, tepat waktu dan relevansinya. Informasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan perawat dalam komunikasi terapeutik dalam  melaksanakan tindakan invasif  hal yang perlu diinformasikan kepada pasien adalah: alasan dilakukan tindakan tersebut, manfaat atau kegunaannya, langkah-langkah yang akan dilakukan, persiapan yang akan dibutuhkan, cara perawatan setelah pemasangan alat tersebut.
B.  Perawat
            Perawat merupakan salah satu tenaga medis yang berperan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien di rumah sakit untuk tercapainya kepuasaan pasien terhadap kebutuhan pemulihannya dari kondisi sakit (Sari, 2012). Perawat sangat berperan dalam pelaksanaan informed consent yaitu berfungsi sebagai advocator pasien dan sumber informasi bagi pasien selama fase perawatan di rumah sakit. (Suhaemi,2004 )
C.  Pemasangan Infus
       Pemasangan  infus  merupakan prosedur  invasif  dan  merupakan  tindakan  yang sering dilakukan di rumah sakit  akan berkualitas apabila dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada standar yang telah ditetapkan (Priharjo,2008). Tujuan pemasangan infus antaralain mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit,vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral, memperbaiki keseimbangan asam basa
D. UGD
Unit Gawat Darurat (UGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya.








BAB III
METIODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif ( Notoadmodjo, 2005). Dimana penulis akan melihat gambaran kualitas informasi perawat dalam pemberian  informed consent pada pemasangan infus di IGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Rumah Sakit Tentara Pekanbaru dan waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari tanggal 5- l 0 Desember 20013
C. Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi adalah  keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoadmodjo, 2005). Pada penelitian ini, penulis melakukan penelitian terhadap pasien di UGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru.
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang dirawat di Rumah Sakit Tentara Pekanbaru yang berjumlah 30 pasein dengan kriteria inklusi pada: pasien mendapatkan tindakan pemasangan infus di IGD RST Pekanbaru kemuidan umur sampel > 6 tahun dan < 60 tahun.
Sampling adalah cara atau teknik tertentu dalam meyeleksi porsi dari popuasi untuk dapat mewakili populasinya (Notoadjmojo,2005). Pada penelitian ini metode sampling yang digunakan yaitu purpose sampling. Menurut Arikunto (2006) purpose sampling merupakan pengambilan sampel/subjek berdasarkan atas pertimbangan peneliti bukan dilakukan secara acak/random.
D. Definisi Operasional
Definisi operasional berfungsi untuk menyederhanakan arti kata atau pemikiran tentang ide, hal dan kata-kata yang digunakan agar orang lain memahami maksudnya sesuai dengan keinginan penulis (Notoadmodjo, 2005).



Tabel 3.1
Definisi Operasional
No
Identifikasi Variabel
Definisi Operasional
1
Kualitas Informasi
Isi atau kandungan informasi yang disampaikan kepada orag lain
2
Informed Concent
Persetujuan medis untuk pasien sebelum melakukan tindakan
3
Penjelasan diagnosis
Informasi yang berisi penjelasan tentang diagnosis penyakit yang dialami/diderita oleh pasien
4
Penjelasan prosedur
Informasi yang berisi penjelasan  tentang diagnosis penyakit
5
Penjelasan tujuan
Informasi yang berisi penjelasan  tentang tujuan tindakan pemasangan infuse
6
Penjelasan alternatif pengobatan
Informasi yang berisi penjelasan  tentang alternatif lain pengobatan penyakit pasien
7
Penjelasan resiko penolakan tindakan
Informasi yang berisi penjelasan  tentang risiko penyakit yang akan dialami pasien
8
Penjelasan komplikasi tindakan
Informasi yang berisi penjelasan  tentang komplikasi penyakit yang diderita pasien
9
Penjelasan prognosis
Informasi yang berisi penjelasan  tentang prognosis lain penyakit pasien
E. Instrumen Penelitan
Penelitian ini penulis menggunakan intrumen penelitian berupa format checklist yang berisi pertanyaan tertutup tentang informed concent yang diberikan perawat. pengambilan data dari pasien yang dirawat IGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru.
F. Jalannya Penelitian
Pada tahap persiapan dalam penelitian ini, penulis mengurus surat izin pengambilan data, kemudian  mengajukan surat izin dari kampus yang ditujukan pada Rumah Sakit Tentara Pekanbaru sebagai skala untuk mendapatkan  rekomendasi izin penelitian. Sedangkan tahap pelaksanaan penelitian ini adalah waktu penelitian dilakukan pada tanggal 5-10 Desember 2013, berupa observasi dan pengambilan data di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Tentara Pekanbaru.




G. Metode Pengumpulan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari pasien yang dirawat di UGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru dengan kriteria sampel yang telah ditetapkan.
H. Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data
Teknik pengolahan data yaitu setelah data terkumpul diklasifikasikan dalam beberapa kelompok menurut variasi yang ada dalam pertanyaan kemudian diolah secara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut : Editing, Coding, Processing, Cleaning, dan Tabulating.
Analisa data berguna untuk menyederhanakan, sehingga mudah ditafsirkan. Dalam penelitian ini analisa data dilakukan secara analisa deskriptif, artinya hanya bersifat memaparkan saja tanpa memberikan penilaian (Notoadmodjo, 2005).
I. Keterbatasan dan Kesulitan Penelitian
              Adapun keterbatasan dan kesulitan saat penelitian antara lain: peneliti terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah dengan keadaan sebagaimana mestinya bersifat deskriptif, peneliti terbatas dalam hal waktu, biaya, dan penyampaian mengenai masalah yang diteliti, kuisioner peneliti bisa dikatakan belum optimal, jumlah sampel yang banyak sehingga sulit untuk mentabulasinya, format checklist yang sudah pernah diuji cobakan, sehingga tidak dilakukan uji Validitas dan realibitas.










BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Penelitian
       Penelitian ini dilaksanakan selama 1 minggu di UGD Rumah Sakit Tentara Pekanbaru. Data umum hasil penelitian berdasarkan gambaran karakteristik responden disajikan dalam bentuk tabel berikut:
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Kualitas Informasi dalam Penyampaian Diagnosis Penyakit Pada Pemberian Informed Concent Tindakan Pemasangan Infus
Diagnosis


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Penjelasan Diagnosis
Ya
29
96.7
96.7
96.7
Tidak
1
3.3
3.3
100.0
Total
30
100.0
100.0

Berdasarkan tabel 4.2 gambaran kualitas informasi perawat dalam menyampaikan diagnosis pasien sebanyak 29 atau (96%) dari 30 tindakan pemasangan infus.
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Kualitas Informasi dalam Penyampaian Prosedur Tindakan Pada Pemberian Informed Concent Tindakan Pemasangan Infus
Prosedur


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Penjelasan Prosedur
Ya
17
56.7
56.7
56.7
Tidak
13
43.3
43.3
100.0
Total
30
100.0
100.0

Berdasarkan tabel 4.3 gambaran kualitas informasi perawat dalam menyampaikan prosedur tindakan pemasangan infus sebanyak 17 atau (56,7%) dari 30 tindakan pemasangan infus.
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Kualitas Informasi dalam Penyampaian Tujuan Tindakan Pada Pemberian Informed Concent Tindakan Pemasangan Infus
Tujuan



Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Penjelasan Tujuan
Ya
22
73.3
73.3
73.3
Tidak
8
26.7
26.7
100.0
Total
30
100.0
100.0


Berdasarkan tabel 4.4 gambaran kualitas informasi perawat dalam menyampaikan tujuan tindakan pemasangan infus sebanyak 22 atau (73,3%) dari 30 tindakan pemasangan infus.
Alternatif


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Penjelasan Alternatif
Ya
12
40.0
40.0
40.0
Tidak
18
60.0
60.0
100.0
Total
30
100.0
100.0

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Kualitas Informasi dalam Penyampaian Alternatif Tindakan Pada Pemberian Informed Concent Pemasangan Infus
Berdasarkan tabel 4.5 gambaran kualitas informasi perawat dalam menyampaikan alternatif tindakan pemasangan infus sebanyak 12 atau (40%) dari 30 tindakan pemasangan infus.

Resiko


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Penjelasan Resiko
Ya
18
60.0
60.0
60.0
Tidak
12
40.0
40.0
100.0
Total
30
100.0
100.0

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Kualitas Informasi dalam Penyampaian Resiko Tindakan Pada Pemberian Informed Concent Pemasangan Infus
Berdasarkan tabel 4.6 gambaran kualitas informasi perawat dalam menyampaikan alternatif tindakan pemasangan infus sebanyak 18 atau (60%) dari 30 tindakan pemasangan infus.

Komplikasi


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Penjelasan Komplikasi
ya
13
43.3
43.3
43.3
tidak
17
56.7
56.7
100.0
Total
30
100.0
100.0

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Kualitas Informasi dalam Penyampaian Komplikasi Tindakan Pada Pemberian Informed Concent Pemasangan Infus
Berdasarkan tabel 4.7 gambaran kualitas informasi perawat dalam menyampaikan komplikasi tindakan pemasangan infus sebanyak 13 atau (43,3%) dari 30 tindakan pemasangan infus.



Prognosis


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Penjelasan Prognosis
Ya
19
63.3
63.3
63.3
Tidak
11
36.7
36.7
100.0
Total
30
100.0
100.0

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Kualitas Informasi dalam Penyampaian Prognosis Tindakan Pada Pemberian Informed Concent Pemasangan Infus
Berdasarkan tabel 4.8 gambaran kualitas informasi perawat dalam menyampaikan alternatif tindakan pemasangan infus sebanyak 19 atau (63,3%) dari 30 tindakan pemasangan infus.

B. Pembahasan                                                 
Setelah dilakukan analisa data maka didapatkan gambaran tentang kualitas informasi pemberian informed concent tindakan pemasangan infus yang dilakukan oleh perawat dimana perawat menyampaikan informasi berupa diagnosis penyakit sebayak 96%, menjelaskan prosedur tindakan sebanyak 56,7%, menjelaskan tujuan sebanyak 73,3 %, menjelaskan alternatif tindakan pengobatan sebanyak 40%, menjelaskan resiko penolakan tindakan sebanyak 60%, menjelaskan komplikasi tindakan yang diberikan sebanyak 43%, dan menjelaskan prognosis perawatan medis sebanyak 63%.  Burch (1986:5) mengatakan bahwa sebuah informasi yang berkualitas sangat ditentukan oleh kecermatan (accuracy), tepat waktu (timeliness) dan relevansinya (relevancy). Adekuatnya informasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan perawat dalam menyampaikan pesan melalui komunikasi terapeutik, pengetahuan dan pemahaman dasar tentang penyakit.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, maka gambaran kualitas informasi perawat dalam pemberian informed concent tindakan pemasangan infus adalah: Gambaran kualitas informasi inofrmed concent dalam hal penyampaian  diagnosis penyakit dari klien sebanyak 96,7%, tujuan tindakan sebanyak 73,3%, prognosis penyakit dari klien sebanyak 63,3%, resiko tindakan dari klien sebanyak 60%, prosedur tindakan  sebanyak 56,7%, komplikasi penyakit dari klien sebanyak 43,3% dan alternatif tindakan sebanyak 40%.
B. Saran
1.         Bagi Perawat
Bagi perawat yang telah melakukan penyampaian diagnosa pelaksanaan Informed consent pada pemasangan infus dengan baik perlu dipertahankan, sedangkan bagi perawat yang belum melakukan pelaksanaan Informed consent daam penyampaian alternatif tindakan dengan baik diharapkan untuk lebih meningkatkan pengetahuan tentang Informed consent.
2.         Bagi Rumah Sakit
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam menentukan kebijakan rumah sakit terutama untuk memperhatikan, dan meningkatkan pengetahuan perawat tentang perilaku Informed consent yang baik sehingga tujuan rumah sakit dapat tercapai.
3.         Bagi Peneliti
Bagi peneliti yang tertarik melakukan penelitian serupa sebaiknya perlu menyertakan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi meningkatnya perilaku Informed consent perawat, misalnya faktor kepuasan klien dan motivasi dari perawat dalam pelaksanaan Informed consent.



DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Cetakan ke 13, EdisiRevisi. Jakarta : Rineka Cipta

Amir & Hanafiah. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, Edisi : ketiga. Jakarta: EGC.

Azis Alimul. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. 2011.

Aziz Alimul. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC. 2004.

Karlina, Dewi. 2013. Keterampilan Dasar Keperawatan Klinis. Penerbit : Imperium.

Notoatmojo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan.. Jakarta: Rineka Cipta
.
Potter, P. A. dan Perry. A. G. 2010. Fundamental Keperawatan. Buku 1. Edisi 7. Penerbit Salemba Medika.

Potter dan Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik. Vol 2. Jakarta: EGC

Potter & Perry. 2005. Buku Saku: Ketrampilan & Prosedur Dasar. Edisi 5. Jakarta: EGC

Sue Hinclalif. 1999. Kamus Keperawatan. Edisi 17. Jakarta : EGC

Sumijatun 2010. Membudayakan Etika dan Praktik Keperawatan. Penerbit : Salemba Medika.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar